Kalender Jawa adalah sistem penanggalan khas yang memadukan beberapa siklus sekaligus — paling dikenal lewat pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dan weton. Berikut penjelasan sistemnya, asal-usulnya, dan istilah-istilah pentingnya.
Lihat juga kalender & libur Indonesia.
Asal-usul kalender Jawa
Kalender Jawa yang dipakai sekarang dibentuk oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1633 M. Beliau memadukan kalender Saka (Hindu, berbasis matahari) dengan kalender Hijriah (Islam, berbasis bulan) — sehingga kalender Jawa mengikuti peredaran bulan seperti Hijriah, tetapi meneruskan hitungan tahun Saka (yang saat itu sudah 1555).
Karena berbasis bulan, tahun Jawa kira-kira sama panjang dengan tahun Hijriah (354–355 hari).
Siklus-siklus dalam kalender Jawa
Yang membuat kalender Jawa unik adalah beberapa siklus yang berjalan bersamaan:
- Pancawara (pasaran) — siklus 5 hari: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
- Saptawara — siklus 7 hari (Senin–Minggu), sama seperti pekan biasa.
- Wuku — siklus 30 pekan (210 hari), masing-masing punya nama (mis. Sinta, Landep, Wukir…).
- Weton — gabungan pancawara + saptawara, berulang tiap 35 hari (selapan).
Pasaran dan neptu
Lima hari pasaran punya neptu (nilai angka) yang dipakai dalam primbon:
| Pasaran | Neptu |
|---|---|
| Legi | 5 |
| Pahing | 9 |
| Pon | 7 |
| Wage | 4 |
| Kliwon | 8 |
Hari biasa juga punya neptu (Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, Sabtu 9). Penjumlahan neptu inilah yang dipakai untuk menghitung weton dan hitungan hari baik.
Bulan-bulan dalam tahun Jawa
Nama bulan Jawa banyak diserap dari bulan Hijriah: Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela/Dulkangidah, dan Besar/Dulkahijjah.
Tahun-tahun juga dikelompokkan dalam siklus windu (8 tahun).
Pertanyaan singkat
Siapa yang membuat kalender Jawa? Sultan Agung dari Mataram pada 1633 M, dengan memadukan kalender Saka dan Hijriah.
Apa itu pasaran? Siklus 5 hari dalam kalender Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
Apa itu wuku? Siklus 30 pekan (210 hari), masing-masing dengan nama tersendiri.
Apakah kalender Jawa sama dengan kalender Hijriah? Keduanya berbasis bulan dan hampir sama panjang, tetapi kalender Jawa meneruskan hitungan tahun Saka dan punya pasaran serta wuku.